KARO
KARO SADUNIA, HORASSSSSS !!!
Tuesday, October 25, 2005
[komunitaskaro] Fw milis Perkoeah: Ita Sembiring sarapan pagi di Kompas
Fwd dari milis Perkoeah: Ita Sembiring sarapan pagi di Kompas
Jakarta, KCM, Updated: Selasa, 25 Oktober 2005, 11:08 WIB SARAPAN PAGI
Can You Speak Bahasa?
Bulan Oktober adalah bulan bahasa, siapa yang mau peduli? Asal tahu, seorang warga Indonesia di Belanda sampai malu karena tidak bisa berpidato dalam bahasa ibunya.
Tahun 1993 saya ada di Paris, tanpa tahu sepotong kata Prancis pun sebab
belum terlalu populer selain sulit. Kecantikan kota tiba-tiba jadi percuma
bahkan ingin cepat pergi akibat tak seorang pun berkenan bicara Inggris.
Luar biasa kecintaan akan bahasa sendiri hingga mendiamkan saja bila ada
orang bicara Inggris, atau meski mengerti tetap menjawab dalam bahasa
Perancis. Saya menatap kosong dari anak tangga gereja Le Sacre Coeur,
Montmartre.Teringat di tanah air, justru banyak yang lebih senang
menggunakan bahasa asing. Bicara Indonesia juga sengaja dibuat
keinggris-inggrisan, seolah bila tidak tercampur kata asing belum tampak
berkelas.
Nah.., orang Prancis, entah karena kegigihan mempertahankan atau memang
bahasanya terdengar romantis dengan bunyi sengau, pada kenyataan kini
populer. Banyak bangsa lain sudah cas cis cus melafaskan meski belum sampai taraf bahasa resmi International. Toh mendunia dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun. (minimal seturut pengamatan saya, sebab tertular bisa bahasa Prancis ala kadarnya sepulang wisata)
Kembali saya tertunduk, kali ini tidak di negeri Napoleon, melainkan di
negeri tulip. Di negeri yang kerap disebut vaderland Indonesia ini banyak
yang jadi lupa bahasa ibu meski bicara Belanda pun masih kalang kabut.
Dalam kesendirian terngiang salah satu isi sumpah para pemuda 77 tahun
lampau dengan lantang berteriak Satu Bahasa : BAHASA INDONESIA.
Ahh..,saya kuatir sumpah itu bakal jadi hapalan pelajaran sejarah semata.
Bagaimana bisa kalau kitanya saja merasa kurang keren berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Atau sengaja dibuat patah-patah, sedikit cadel, hingga terdengar sulit bicara. Dengan kata lain, seolah ada kebanggaan terselip bila ternyata sebagai orang Indonesia tak mampu berbahasa Indonesia. Sama seperti yang malah sumringah mengaku tak paham bahasa daerahnya tapi mahir bahasa asing. Padahal bisa jadi nilai plus bila menguasai bahasa ibu, bahasa asing apalagi bahasa daerah. Tja!
Pernah ada doa bersama di salah satu rumah warga Indonesia yang kebetulan lama menetap di Belanda. Pemimpin pertemuan itu misionaris berkebangsaan Amerika asli, tapi bicara Indonesia sempurna. Seluruh umat merasa puas dan mengerti baik isi khotbah sebab dibawakan dalam bahasa ibu, kecuali si empunya rumah?
Apa pasal? Nyonya rumah maju ke depan minta seseorang yang hadir bersedia menterjemahkan secara singkat khotbah barusan dalam bahasa Belanda karena katanya sudah tidak mengerti bahasa. (Di sini lazim menyebut bahasa sebagai pengganti kata bahasa Indonesia). "I cant speak bahasa lagi," katanya campur-campur. Si Amerika terkesima, beberapa warga Indonesia berbisik sinis bahkan ada yang ngedumel, katanya malu-maluin. Amerikanya saja begitu fasih, kok malah orang asli tidak mengerti. Namun demi menghormati tuan rumah sudah berkenan menyediakan tempat dan penganan lezat, ada sukarelawan menyampaikan ulang dalam bahasa Belanda. Sedikit pindah topik soal teman lain, redaktur Bisdomkrant (koran Keuskupan) di Breda. Satu kali ikut berlibur ke Indonesia.Sebulan sebelum
keberangkatan, si Belanda tulen ini sibuk mengumpulkan info tentang
Indonesia bahkan pinjam buku pelajaran Belanda-Indonesia. Setiap bertemu ada saja kalimat baru diucapkannya membuat kagum. Katanya dipacu semangat ingin berkomunikasi serta menghargai negeri yang mau dikunjungi, terlebih agar berkesan mendalam bagi warga Indonesia. Padahal saya bilang tak perlu repot, sebab rata-rata orang Indonesia mahir bahasa Inggris. Bahkan lebih bagus dari orang Belanda sendiri, canda saya waktu itu.
Tapi demi kecintaan pada negara yang cuma diketahui lewat buku atau teman, dia serius belajar. Kebetulan pimpinan di tempat kerjanya yang nota bene adalah uskup Breda, 8 tahun mengabdi di tanah air. Sampai kini beliau tetap mahir bahasa Indonesia dan kecintaan akan negeri itu tak lekang. Terbukti dalam berbagai acara kerap menyertakan nuansa Indonesia atau tiap pidato pasti menyelipkan sepotong nostalgia Indonesia. Jadi terharu lihat ada
orang mau menghargai dan repot belajar padahal hanya berlibur 21 hari.
Biasanya saya kelimpungan mempelajari bahasa lain supaya bisa diterima baik.
Bahkan pekerja asing di Indonesia pun tak diwajibkan mahir berbahasa
Indonesia, malah kitanya harus paham bahasa pendatang.
Lain waktu saya ditelepon pastor dari Biara Kapuzijnen, di s-Hertogenbosch.
Kaget luar biasa, bukan karena sekonyong-konyong dapat kehormatan atau
bingung darimana beliau kenal dan dapat alamat.Tapi karena telepon
berlangsung dalam bahasa Indonesia sesekali campur bahasa Karo, daerah asal saya. Padahal pastornya Belanda asli, hanya pernah bertugas beberapa tahun di Tanah Batak Toba dan Karo.
Saya makin terkesan saat masuk ruang kerjanya, begitu kental nuansa
Indonesia. Tergantung kain ulos dengan tulisan Batak Toba. Iseng saya tanya
apa pastor mengerti artinya? Mulut makin ternganga sebab dijawab dalam
bahasa Batak Toba pula dan kali ini ganti saya yang tidak paham. Pastor
menertawakan meski saya sudah membela diri mengaku cuma bisa bahasa Karo.Toh makin sumringah mengatakan, dia yang Belanda saja menguasai bahasa Karo maupun Toba selain bahasa Indonesia dengan sempurna.
Hebatnya lagi bukan hanya bahasa, bahkan daerah hingga pelosok terekam di benaknya meski telah berusia 80 lebih. Semua karena kecintaan dan pengabdian tulus. Sambil minum kopi dia mengeluarkan setumpuk kartu nama orang Indonesia, bekas murid yang sekarang jadi orang penting dan terkenal. Dengan kocak sempat membongkar rahasia kecil. Si Anu sekarang jadi petinggi negeri, dulu nilainya selalu jelek, si X dulu bodoh minta ampun dan bandel, sudah jadi pengusaha kaya.
Dari semua kisah selama 4 jam minum kopi, paling berkesan dan membuat
kembali tercenung ketika tersebut satu nama, tinggal di Belanda dan rutin
mengunjungi pastor untuk belajar bahasa Batak. Hampir tumpah kopi yang
tinggal setengah cangkir demi mendengar seorang asli Batak belajar bahasa
Batak pada Belanda tulen. Tapi begitulah, masih bagus dia mau belajar di
masa tua, batin saya.
Ketika angin Oktober mulai kencang sebab musim rontok sudah sebulan mulai, saya menunduk di pinggir jendela. Menatap dedaunan kering menguning menutup bumi, cantik dan mengkilat ditimpa sinar mentari. Ranting-ranting gundul halus bergoyang mengikuti arah angin. Teringat lagu Rayuan Pulau Kelapa dengan syair nyiur melambai di tepi pantai. Tapi terutama terbayang pula di bulan inilah dulu para pemuda mengucap tiga sumpah yang salah satunya tadi berjanji menyandang satu bahasa, Bahasa Indonesia. Tapi bukan berarti menganggap tabu bila menambah pengetahuan bahasa asing. Yah.., sekedar menyimpan kerinduan, andai bahasa Indonesia yang sederhana tapi kaya pilihan kata-kata itu bisa setara bahasa lain. Atau kalau harapan ini terlalu muluk, minimal bangsa Indonesia tetap bangga mempergunakan dengan baik dan benar.
Kalau Prancis bisa jadi pilihan bahasa populer serta mendunia dalam kurun
waktu relatif singkat, kapan ya kira-kira saya bisa lantang bertanya: Can
you speak Bahasa ????
(Ita Sembiring, Ibu rumah tangga, tinggal di Belanda)
--
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "komunitaskaro" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
komunitaskaro-unsubscribe@yahoogroups.com
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.