<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=18070445&amp;blogName=KARO&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http://batakaro.blogspot.com/search&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http://batakaro.blogspot.com/&amp;vt=-8554473822428152089" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

KARO

KARO SADUNIA, HORASSSSSS !!!

Wednesday, October 26, 2005

[komunitaskaro] Pahlawan Keadilan atau Pahlawan Ketidakadilan

Keturunan Pahlawan Nasional Sisingamaraja XII Minta Bandara Polonia Menjadi Udara Sisingamaraja XII

Porsea (SIB)

Raja Napatar Sinambela, keturunan Pahlawan Nasional yang berjuang mengusir penjajah dari Tanah Batak Raja Sisingamangaraja XII mengungkapkan, bangsa besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Dan untuk menghargai jasa-jasa perjuangan Pahlawan Sisingamangaraja XII yang pada masa pemerintahan yang lalu-lalu sempat tidak dimasukkan dalam Sknya sebagai pahlawan nasional minta agar nama bandara Polonia yang ada di Medan untuk segera dirubah namanya menjadi Bandar Udara Sisingamangaraja XII. Hal ini perlu segera direalisasikan oleh Pemerintah Sumatera Utara untuk merubah nama bandar udara dimaksud mengingat sejarah perjuangannya dan sebagai wujud penghargaan atas jasa-jasanya seperti halnya dengan bandar udara di daerah lain yang membuat nama pahlawan asal daerah tersebut.

Demikian juga halnya Srikandy Batak yang ikut berjuang melawan penjajah yakni Puteri Lopian, puteri Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII yang tewas dalam pertempuran melawan penjajah, diharapkan pemerintah bisa untuk memasukkan satu SK dengan nama pahlawan Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan Nasional. Karena selama ini nama "Srikandy" Puteri Lopian yang pada usia 17 tahun telah ikut Pahlawan Sisingamangaraja XII berperang bergerilya di hutan-hutan untuk mengusir penjajah dari tanah Batak.

Mengapa kami sebagai keturunan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII mengusulkan agar nama Puteri Lopian dimasukkan satu SK dengan nama Pahlawan Nasional Sisingamangaraja yang merupakan ayah kandungnya dan dikatakan Srikandi? Karena pada usia 17 tahun puteri Lopian telah ikut berjuang melawan penjajah dengan cara bergerilya. Demikian juga di saat Belanda akan mendekati daerah Pearaja Dairi, seluruh wanita dan anak-anak harus mengungsi menyingkir dari daerah tersebut. Namun Puteri Lopian tidak pernah ikut mengungsi akan tetapi ikut berjuang menghadang penjajah," ungkap Raja Napatar Sinambela pada peresmian tugu jam dan patung puteri Lopian di kompleks tanah lapang Porsea, Selasa (25/10).

Hadir pada peresmian Tugu jam dan patung Puteri Lopian yang dibuka dengan doa serta ditandai dengan pengguntingan pita oleh Ketua Tim Penggerak PKK Tobasa Intan D Marpaung dan penandatanganan prasasti oleh Bupati Tobasa Drs Monang Sitorus SH MBA dan Kanjeng Pangeran Tarnama Sinambela Kusumonegoro (donateur pembangunan) putera asal Porsea, Ketua DPRD Tobasa Tumpal Sitorus dan isteri, isteri wakil Bupati Tobasa Mindo Tua Siagian boru Siahaan, Brigjen Tarida Sinambela, Praeses Toba Hasundutan E Tampubolon, para Kadis dan Kakan, anggota DPRD Tobasa, para Kades, Ketua PP Tobasa Tahan Tambunan dan Ketua PMK Tobasa Viktor Manurung.

Dikatakan oleh Raja Napatar Sinambela, bahwa banyak masyarakat yang berbicara mengenai pisau "Gaja Dompak" milik Raja Sisingamangaraja, akan tetapi tidak mengetahui bagaimana bentuk sebenarnya dari pisau dimaksud. Karena menurut sejarahnya, mulai dari Raja Sisingamangaraja yang pertama hingga Raja Sisingamangaraja XI meninggal, maka pisau tersebut juga akan hilang juga. Oleh karena tidak ada yang tahu bagaimana sebenarnya bentuk dari pisau itu dan hanya yang memiliki kesaktian yang bisa membukanya. Dan pisau tersebut juga akan kembali jika ada Sisingamangaraja.

Dikisahkan Raja Napatar, bahwa saat Raja Sisingamangaraja XII gugur, segala peralatannya diambil oleh penjajah. Dimana yang tertinggal hanya bendera dan cap Raja Sisingamangaraja XII yang diberikan oleh orang atau kelompok yang tidak mau menyebutkan identitasnya.

"Pada masa perjuangan Raja Sisingamangaraja ada 3 kelompok masyarakat yang digunakan oleh Belanda yakni kelompok penunjuk jalan, peterjemah dan penghianat. Bendera dan cap tersebut kita peroleh dari kelompok yang tidak mau menyebutkan identitas dirinya. Kita kehilangan sejarah karena mereka tidak mau berbicara siapa mereka dan keluarga juga telah melakukan upaya-upaya," ujar Raja Napatar seraya menerangkan arti-arti simbol dan warna yang ada pada bendera Sisingamangaraja.

Bupati Tobasa Drs Monang Sitorus SH MBA dalam kesempatan tersebut mengungkapkan, orang yang menghargai sejarah akan berhasil dalam hidupnya dan saat ini di Tobasa harus diakui bersama sedang terjadi krisis keteladanan. Dimana pada saat ini anak tidak lagi menghormati orang tuanya dan demikian juga dengan seorang murid tidak lagi takut atau patuh pada gurunya.

"Oleh karenanya saya selalu mengatakan bahwa untuk membangun Tobasa ini kearah yang lebih baik harus bisa dibangun orang Tobasa yang tidak tinggal di Tobasa. Dalam waktu dekat ini atas bantuan Plt Gubsu Rudolf Pardede akan dibangun satu unit Poliklinik yang akan ditempatkan di Ajibata. Demikian juga dengan jalan berbiaya Rp 700 juta akan dibangun di Tobasa," tutur Monang Sitorus.

Sebelumnya Kanjeng Pangeran Tarnama Sinambela Kusumonegoro mengungkapkan, pembangunan tugu jam dan patung Puteri Lopian ini adalah untuk melahirkan puteri-puteri srikandi karena di waktu-waktu terakhir ini tidak ada lagi pejuang-pejuang di daerah. Oleh karenanya kepada Bupati Tobasa dan ketua DPRD Tobasa agar mengusulkan pendirian pembangunan patung puteri Lopian di Bandar Udara Silangit dan juga mengusulkan mengubah nama bandara udara Polonia menjadi bandara udara Sisingamangaraja XII.

Camat Porsea Drs Laurensius Sibarani pada kesempatan itu, mengatakan bahwa pada saat pendirian monumen patung Puteri Lopian, langsung melaporkannya kepada tokoh masyarakat kenegerian Patane dan para tokoh tersebut sangat antusias atas keberadaan patung tersebut. Turut memberikan sepatah dua kata ketua DPRD Tobasa Tumpal Sitorus dan Brigjen Tarida Sinambela dan tokoh masyarakat Patane St MN Sirait. (EMT/k)

--

KOMENTAR

Yang "mengusir penjajah dari Tanah Batak" adalah orang Batak Sisingamangaraja. Tetapi yang mrngusir penjajah dari Polonia, Medan dan seluruh Deli-Lanngkat adalah pahlawan nasional orang Karo Datuk Sunggal Surbakti. "Erkata Bedil i Kota Medan" juga menggambarkan keadaan sebenarnya, bukan buatan zaman sekarang. Kota Medan sendiri dibangun oleh orang Karo Guru Patimpus Sembiring Pelawi. Jadi kalau mau berpikir adil dan mau memperjuangkan keadilan patutnya Polonia diganti nama Guru Patimpus dan Kuala Namo atau Kuala Namu diganti nama Datuk Sunggal Surbakti. Ini kalau mau berpikir benar dan adil. Memangnya keadilan bisa datang tanpa perjuangan. Tentu tidak. Karena itu juga maka dunia sekarang mempunyai kontradiksi pokok: Perjuangan untuk KEADILAN, karena yang memperjuangkan KETIDAKADILAN akan terus bekerja juga.

Namo (namu Karo Jahe) dalam bahasa Karo artinya lubuk, jelas ini juga bukan bahasa Batak tapi bahasa Karo.

MUG

--



SPONSORED LINKS
Corporate culture Business culture of china Bali indonesia hotel
Bali indonesia Indonesia hotel Bali indonesia vacation


YAHOO! GROUPS LINKS





Google