KARO
KARO SADUNIA, HORASSSSSS !!!
Monday, October 24, 2005
[komunitaskaro] serba-serbi
Transportasi Darat Kutacane-Medan Kembali Normal
Kutacane, Senin, Kompas
Transportasi darat dari dan ke Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara-Medan, Sumatera Utara (Sumut) dilaporkan kini sudah normal kembali, setelah sempat lumpuh total akibat banjir lumpur, 18 Oktober 2005. "Saat ini, hubungan darat Aceh Kutacane-Medan sudah lancar dan semua kebutuhan pokok masyarakat tersedia cukup, termasuk bahan bakar minyak (BBM)," kata Wakil Bupati Aceh Tenggara, Darmansyah Selian, di Kutacane, Senin (24/10).
Kelancaran transportasi darat terganggu akibat bencana alam banjir lumpur yang menerjang enam desa di wilayah Kecamatan Semadam. Akibatnya 20 orang penduduk Aceh Tenggara dipastikan meninggal dunia.
Menurut Darmansyah, daerah yang terkena banjir lumpur serta terjangan bebatuan gunung itu meliputi Desa Titi Pasir, Kampung Baru, Semadam, Semadam Bawah, Semadam Awal dan Desa Lawe Beringin Gayo.
Jamudin Sebayang, salah seorang warga Kutacane menyebutkan bencana banjir lumpur yang melanda kawasan Semadam merupakan musibah terburuk kedua sepanjang tahun 2005 di Aceh Tenggara, setelah pertama akhir April lalu. "Kini masyarakat telah lega, setelah transportasi darat Kutacane-Medan normal kembali," katanya.
Sebelumnya, BBM sempat menghilang selama beberapa hari, namun kini sudah normal kembali, setelah dipasok melalui Medan dengan jarak tempuk lebih 300 km, sehingga stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sudah beroperasi kembali secara normal.
Menurut Jamudin, selama ini berbagai kebutuhan pokok masyarakat di Aceh Tenggara semuanya dipasok dari provinsi tetangga, Sumut serta satu-satunya jalan hanya melalui transportasi darat dengan melewati Kabupaten Tanah Karo. "Kami disini (Aceh Tenggara-red) masih sangat tergantung dengan Sumut, tanpa pilihan lain kecuali jalan darat dan kalau transportasi darat lumpuh, pasokan bahan kebutuhan masyarakat di Aceh Tenggara terhenti," demikian Jamudin Sebayang.
* * *
Masyarakat di Jalan agar Berhati-hati
Aksi Kejahatan Bermodus Menyaru sebagai Petugas Makin Merajalela di Medan
Medan, (Analisa)
Aksi kejahatan dengan modus pelakunya mengaku-ngaku petugas agar dengan mudah memperoleh hasil kejahatan dari sasaran atau korban setelah digertak, akhir-akhir ini tampak semakin merajalela di Medan.
Bermodalkan gaya dan lagak seperti petugas terkadang korban yang menjadi sasaran pelaku dengan mudah percaya dan tidak dapat berbuat banyak ketika sadar telah diperdaya.
Berbagai modus operandi yang mereka lakukan itu dengan memantau situasi di lapangan dengan mengendarai kendaraan bermotor dan tidak segan-segan pelaku menghampiri kemudian menyetop korban dan memerintahkan untuk berhenti. Berlagak petugas mereka menanyakan kelengkapan surat-surat kendaraan dan lainnya atau mencari kesalahan si korban.
Melihat situasi di sekitar lokasi korban digertak dan selanjutnya dibawa pelaku ke suatu tempat. Kesempatan tersebut dimanfaatkan pelaku menguras harta benda korban dan lainnya bahkan kendaraan korban tak jarang dilarikan petugas gadungan itu.
Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan petugas mengimbau masyarakat apabila ada orang yang hendak melakukan aksi kejahatan dan mengaku-ngaku petugas serta tidak menunjukkan identitas diri yang jelas (hanya menyebut-nyebut) petugas jangan mudah percaya.
DITANGKAP
Sementara petugas Reskrim Polsekta Medan Baru belum lama ini menangkap seorang pria diduga terlibat tindak kejahatan yang menyaru sebagai petugas di kawasan Jalan Adam Malik sekitar pukul 00.30 WIB.
Korbannya Yusri (28) Tersangka JR (21) yang mengaku-ngaku petugas berhasil menyikat sejumlah uang milik korban.
Dari tersangka petugas berhasil menyita satu buah borgol (gari) berikut uang diduga hasil kejahatan tersebut disita sebagai barang bukti pengusutan.
Di tempat terpisah petugas yang sama juga menangkap seorang tersangka RS (40) diduga terlibat kejahatan perampasan mengakibatkan satu unit HP milik korban Kristian (23) lenyap dilarikan.
Dalam aksinya itu tersangka berpura-pura melaksanakan razia di salah satu tempat dan mengaku-ngaku petugas untuk mengelabui korban.
Kapolsekta Medan Baru AKP Yusfhi M SSos SIK ketika dikonfirmasikan melalui Kanit Reskrim Iptu Pol Ernesto Seiser sehubungan ditangkap tersangka membenarkan laporan korban tersebut. Tersangka ditahan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
PENCURI
Selain itu petugas Unit Kendaraan Bermotor (Ranmor) Poltabes Medan menangkap dua tersangka diduga terlibat pencurian di kawasan Mabar, Jumat (21/10) malam.
Guna pengusutan tersangka N alias I dan S alias I diboyong ke Mapoltabes berikut aluminium sekitar 150 kg disita petugas sebagai barang bukti.
Penangkapan tersebut berdasarkan laporan polisi yang diterima petugas beberapa hari lalu. Mendapat informasi tersangka diduga terlibat kejahatan berada di salah satu tempat, Kanit Ranmor Iptu Pol Hardian Pratama mengerahkan anggota ke lokasi.
Tersangka tidak dapat berbuat apa-apa ketika ditangkap. Guna pengusutan dan pemeriksaan lebih lanjut tersangka ditahan. (mugi)
* * *
SBY-JK: Duet atau Duel
Senin, 24 Oktober 2005 | 03:30 WIB
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) kelihatan punya peran penting yang menonjol dalam roda pemerintahan. Bayang-bayang kiprahnya, di dalam dan di luar kabinet, seolah-olah menutupi kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Walau masih terlalu pagi, orang mulai bicara mengenai kemungkinan JK mempersiapkan diri untuk kursi nomor satu tahun 2009 nanti. Pengaruh JK juga dibicarakan dalam rangka reshuffle kabinet sekarang.
Agaknya ada dua konsepsi yang keliru mengenai hubungan presiden dan wakil presiden. Kekuasaan pemerintahan dipegang oleh presiden. Dalam menjalankan kewajibannya, presiden dibantu oleh wakil presiden, kata konstitusi. Jika ada pembagian tugas yang diberikan kepada wakil presidenmengurus bidang ekonomi, misalnyaitu bukanlah pemisahan atau pembagian kekuasaan presiden. Itu adalah pelimpahan sebagian kewajiban presiden kepada wakilnya, sedangkan kekuasaan tetap utuh dipegang presiden sendiri.
Demikian juga halnya dengan soal presiden dan wakil presiden yang bersama-sama dipilih langsung melalui pemilihan umum. Hal itu tidak menjadikan presiden dan wakil presiden berbagi kekuasaan, seakan-akan masing-masing memegang separuh saham dari kekuasaan pemerintahan. Juga tak ada pembagian saham karena wakil presiden menyumbang banyak pengaruh atau dana dalam kampanye pemilihan. Yang satu dipilih sebagai presiden, pemegang kekuasaan, yang lain sebagai wakil presiden, pembantu presiden dalam melaksanakan kewajibannya.
JK memang gesit geraknya dan tekun mengejar penyelesaian sampai titik akhir. Keputusannya diambil cepat, dan khas dengan refleks pedagang yang menggunakan naluri perhitungan untung-rugi serta besar-kecilnya risiko. Sering mencari jalan pintas, dan efek sampingan bisa dipikirkan belakangan. Setiap lubang dimanfaatkan, semua alat dikerahkan, dan nyaris segala cara ditempuh. Langkahnya terkesan satu kali ayun saja, reaktif dan kaya improvisasi, tak selalu jelas letaknya dalam perspektif rencana jangka panjang.
Dibandingkan dengan Presiden SBY, JK tampak sangat aktif dan lebih lincah. Kekaguman akan reaksinya yang tangkas bisa mengundang tepuk tangan, walau tak selalu menimbulkan respek. Tidak percuma pengalaman yang dimilikinya sebagai pedagang mobil dulu. Akalnya panjang, pandai berkelit dan diutarakan dengan jalan pikiran sederhana, kadang-kadang terlalu menyederhanakan. Tak pelak, JK lebih memberi kesan cerdik daripada berpengetahuan dalam dan serius.
Gaya JK berlainan dengan SBY. Dalam menjalankan pemerintahan, kadang kala dibutuhkan kebijakan penanggulangan secara istimewa. Agar persoalan bisa segera diselesaikan dengan efektif, tindakan tidak boleh tanggung-tanggung, kalau perlu dengan biaya dan pengorbanan lebih besar. Suatu necessary overkill terpaksa dilakukan. Dalam hal seperti inilah tampak JK berbeda dengan SBY. Jika JK menekankan pada perlunya overkill atau menggenjot, maka mungkin SBY akan lebih mempertimbangkan unsur necessary, apakah tindakan itu benar perlu atau tidak. Akibatnya yang satu cepat, lainnya lambat.
Gaya kepemimpinan yang berbeda antara presiden dan wakilnya itu bisa membuat repot para menteri dalam kabinet. Tidak mungkin bagi seorang menteri secara terbuka memilih mana yang lebih cocok untuk diikuti, ke mana lebih berat akan berkiblat. Adanya dua kepala ini memaksa para menteri mengembangkan kepatuhan ganda, membelah diri untuk melayani keduanya agar tak menimbulkan kecurigaan lebih setia pada salah satunya saja. Keadaan ini menyulitkan tata kerja di kabinet, dengan asumsi bahwa terdapat hubungan persaingan antara presiden dan wakilnya sendiri.
Benar atau tidak, tapi kesan adanya persaingan antara presiden dan wakilnya harus disudahi. JK yang gesit dan sangat aktif itu mestinya bukan diperlakukan sebagai risiko atau kendala. SBY sebaiknya berusaha memanfaatkannya sebagai aset, menjadi komplemen dan penguat kepemimpinan presiden. Yang harus dijaga ialah agar peran penting JK tidak membuka kesempatan berkembangnya "kompleks politiko-bisnis" dalam pemerintahan, yaitu jalinan kekuasaan yang dirajut dari kepentingan politik penguasa dan kepentingan ekonomi pengusaha.
Kesempatan untuk mengembalikan hubungan presiden dan wakilnya yang lebih proporsional bisa dimulai dalam cara menyusun kembali kabinet, jikalau reshuffle jadi dilakukan. Wakil Presiden boleh mengajukan calon dan dimintai pendapatnya. Tapi bukan tawar-menawar atau membuat keputusan bersama-sama. Penentuan dan tanggung jawab sepenuhnya ada pada Presiden. Sejak saat itu secara konkret tertata kembali, siapa nomor satu dan siapa nomor dua dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan. Begitulah untuk seterusnya.
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "komunitaskaro" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
komunitaskaro-unsubscribe@yahoogroups.com
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.